Custom Search

Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

'Semua kan Berakhir' yang dibuat Gayus

Category: By AgungPutradinata




'Semua kan Berakhir' yang dibuat Gayus:

Biarpun semua bilang
Dialah sang mafia
Tapi aku tetap bangga
Karena dia suamiku uuuuh ……ooooh

Biarpun semua bilang
Dialah sang penjahat
Tapi aku tetap sayang
Karena dia ayah anak-anakku uuuuhhhh…

Reff: Oh Tuhan ku tak sanggup
Menghadapi kenyataan yang terjadi
Namun aku yakin pasti semuanya akan berakhir

Tak seperti omongan orang
Betapa ku sayang padanya
Sungguh besar tanggung jawabnya
Pada istri dan anak-anaknya haaaaa ….haaaaa

Biarpun semua bilang
Dialah narapidana
Tapi aku tetap setia
Karena aku adalah tulang rusuknya

Takkan aku pernah berubah, takkan aku pernah berubah….

Sabarkanlah hatinya Tuhan
Kuatkanlah hatinya Tuhan
Kehilafan yang dia lakukan
Ampunilah dirinya Tuhan
Kami selalu menantinya
Agar dapat kembali bersama 


Add to Technorati Favorites
 


Rahasia bisnis orang cina

Category: By AgungPutradinata



Salam Sejahtera, Saya mau share intisari dari buku "Rahasia Bisnis Orang Cina"
tulisan Ann Wan Seng.

KERJA KERAS ibarat kata keramat yang mendorong pedagang Cina berhasil dalam bisnisnya...

"Jika dahulu bapaknya berjualan air di pinggir jalan, anaknya akan membuka restoran dan barangkali cucunya akan mendirikan pabrik yang memproduksi air dalam kemasan."

Orang Cina cenderung memilih berdagang karena bidang ini tidak dibatasi oleh ruang, waktu dan tempat. Selain bebas, kegiatan perdagangan juga menyediakan ruang yang luas bagi seseorang untuk mengembangkan kemampuannya.

Perdagangan orang Cina tidak banyak formalitas dan birokrasi. Mereka berusaha menjadikan kegiatan dagang ini semudah mungkin.

"Jika kita sama rajinnya dengan orang-orang di Barat, kita tidak akan dapat menyaingi mereka," kata Kim Woo Choong.

Jika ingin lebih berhasil dari orang lain, kita tidak punya pilihan, kecuali bekerja dengan lebih keras dan rajin.

Persepsi orang Cina pada perdagangan adalah positif. Dunia dagang adalah dunia yang menjanjikan kesenangan, kemewahan, dan kebahagiaan.

Pedagang yang jatuh akan merasa sakit, tetapi rasa sakit itulah yang membuatnya bangkit kembali.

Berdagang dapat dijadikan sebagai hobi, tetapi bukan untuk mengisi waktu luang.

Keuntungan yang diperoleh tidak dibelanjakan. Keuntungan tersebut digunakan untuk menambah modal kerja dan melakukan investasi.

Uang digunakan untuk menghasilkan uang.

Pedagang Cina membolehkan terjadinya tawar-menawar. Meskipun proses ini memakan waktu dan mengurangi keuntungan, hal ini dapat menggembirakan hati pelanggan.

Pantang mengeluh di hadapan pelanggan, apalagi menunjukkan emosi negatif.

Bersikap terbuka dan berlapang dada apabila menghadapi situasi sulit, dan tetap fokus mencari jalan keluar.

Sekedar pintar berdagang tidak memberikan hasil yang maksimal. Harus didukung dengan sikap agresif, proaktif, berani, tahan banting, semangat tinggi, dan rela berjuang untuk merebut segala peluang yang ada.

Orang Cina rela bangun dini hari dan terus bekerja sampai malam hari.

Apabila orang Cina mengatakan akan berdagang mereka biasanya tidak akan berpikir panjang untuk menindaklanjuti. Pengalaman dan kemahiran tidak penting karena hal itu dapat dipelajari kemudian.

Kegagalan pertama tidak dapat melunturkan semangatnya. Sebaliknya akan membuatnya semakin gigih. Kegagalan kedua dijadikannya pelajaran. Kegagalan ketiga menjadikannya lebih bijak. Kegagalan berikutnya menguji kesabaran dan ketabahannya.

Apabila melibatkan diri dalam kegiatan perdagangan, kita harus menetapkan tujuan atau target untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang.

Budaya dagang orang Cina mengutamakan kecepatan dalam bertindak, hal ini penting seperti "siapa cepat dia dapat" .

Orang Cina mengijinkan pelanggan membuat pilihan sendiri, memberikan pelayanan yang baik, diskon atau kemudahan kredit.

Dunia perdagangan penuh dengan persaingan keras dengan berbagai macam cara. Oleh karena itu pedagang harus mempersiapkan dirinya dengan seni 'bela diri' perdagangan untuk menghadapi serangan dalam bentuk apapun dan kemungkinan yang akan datang.

Seni berdagang memerlukan kecermatan dan ketelitian, tidak cukup jika kita mempelajari teori saja. Berdagang perlu praktik dan menuntut seseorang senantiasa fleksibel.

Seni berdagang orang Cina mengutamakan prinsip 'win-win'.

Pedagang harus memiliki daya tahan, mental, dan jiwa yang kuat.

Tanpa mengalamin kerugian, keuntungan tidak mungkin datang.

Sebagian dari keuntungan disimpan untuk mengembangkan kegiatan perdagangan dan menghadapi kemungkinan apapun yang di luar dugaan. Sebagian lagi digunakan untuk modal kerja.

Kerugian jangka pendek merupakan jalan yang dilalui untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang.

Pedagang Cina mempunyai kode etik. Menjatuhkan perdagangan orang lain adalah perbuatan yang terkutuk.

Bagi masyarakat Cina, pedagang dilarang mengganggu dan menjelek-jelekkan kegiatan perdagangan orang lain. Persaingan dibenarkan menurut nilai moral dan pertimbangan kemanusiaan. Pedagang yang tidak mematuhi etika ini akan terkena sangsi. Perbuatan menjatuhkan perdagangan orang lain dianggap sebagai tindakan yang menyalahi aturan. Sekali namanya sudah rusak, selamanya orang tidak akan mempercayainya lagi.

Meskipun kasih sayang dan sikap patuh tidak dapat dinilai dengan uang, kekayaan akan dapat memberikan kebahagiaan dan meningkatkan status sosial keluarga dalam masyarakat.

Beberapa faktor yang memotivasi keberhasilan orang Cina adalah kemiskinan, perasaan kurang aman, kemampuan bertahan hidup di tempat orang, tidak ada pilihan, dan ajaran falsafah yang didapat sejak kecil.

Dalam sistim sosial orang Cina, anak laki-laki adalah ahli waris keturunan. Salah satu cara menunjukkan penghormatan kepada kedua orangtua dan mengangkat martabat keluarga adalah dengan menjadi kaya. Satu-satunya cara menjadi kaya adalah melalui kegiatan perdagangan.

Uang tidak pernah jadi penghalang. Asal ada kemauan, pasti ada jalan. Jika belum ketemu jalan, buatlah jalan.

Petuah untuk berhasil dalam bidang perdagangan adalah dengan menjadi pedagang yang jujur, terpercaya, dan memudahkan urusan.

Untuk menjadi pedagang yang berhasil, harus mampu meyakinkan pelanggan.

Pedagang Cina tidak takut dan tidak pelit untuk mengeluarkan sedikit biaya tambahan asal mereka dapat 'menangkap' dan memikat hati pelanggannya.

Kesabaran itu memang pahit, tapi buahnya sangat manis.

Jika ketekunan digabungkan dengan tekad yang kuat dan diperkuat dengan KESABARAN niscaya akan menjadi asset yang cukup berharga bagi siapa saja yang ingin melibatkan dirinya dalam perdagangan.

Kebanyakan usahawan Cina yang sukses bekerja sekurang-kurangnya 18 jam sehari.

Beberapa ciri yang menunjukkan seseorang itu memiliki bakat berdagang : mukanya bulat, enak dipandang, badan berisi, dahi cerah dan luas, serta begitu bergairah terhadap uang.

Emas yang tersembunyi hanya dapat ditemukan oleh seseorang yang gigih mencari dan menggalinya.

Orang Cina tidak mencari-cari alasan. Mereka berusaha menghilangkan alasan apa pun dan menjauhkan diri dari pendapat-pendapat negatif (yang tidak membantu mereka).

Pandai atau tidaknya seorang pedagang hanya dapat diketahui setelah dia berhasil mengatasi segala rintangan yang menghadang di dalam perdagangan yang beresiko tinggi.

Sekali melangkah, mereka akan terus melangkah. Tidak ada kata mundur.

Orang Cina percaya, nasib buruk dapat diubah. Sial dan malang dapat dibuang dan digantikan dengan nasib baik.

Masalah adalah batu loncatan, dan bukan penghalang sebuah keberhasilan.

Pedagang tidak harus cerdik dan memiliki otak yang cerdas. Yang diperlukan adalah KEBERANIAN menghadapi tantangan apa pun yang datang.

Kedinamisan dalam masyarakat Cina berkaitan erat dengan sikap mental orang Cina, fleksibel, mudah beradaptasi, menyesuaikan diri dengan perubahan iklim ekonomi dan perilaku pasar.

Pedagang Cina biasanya tutup buku pada setiap akhir tahun. Suatu perdagangan dikatakan berhasil jika pada akhir tahun itu mencatat keuntungan. Para pedagang Cina akan menyelesaikan utang tiga hari menjelang tahun baru.

Pedagang pamali, tidak boleh mengatakan sesuatu yang tidak baik ketika memulai babak baru perdagangannya.

Lokasi perdagangan yang dianggap baik adalah yang memiliki kemudahan memarkir kendaraan, angkutan umum, dan dekat dengan pusat administrasi pemerintahan.

Feng Shui adalah ilmu sains dan geografi yang digunakan orang Cina untuk mencari tempat membangun usaha perdagangan dan rumah kediaman.

Impian hanya tinggal impian jika pedagang terus bertahan di batas bawah dan tidak mau mengubah sikap mental dan tindakan.

Orang Cina mewujudkan impiannya dengan menyusun strategi untuk memperkecil risiko kerugian, memperbaiki kedudukan dan masa depannya.

Pedagang harus memiliki daya tahan dan semangat juang yang tinggi, tidak mudah takluk pada keadaan, tetapi berusaha membuat keadaan tunduk pada kehendak mereka.

Modal, bukan penentu utama untuk berhasil atau tidaknya perdagangan. Kadangkala modal yang sedikit diiringi dengan pengetahuan seluk beluk perdagangan yang mantap dapat membuat pedagang berhasil.

Tidak ada yang lebih memuaskan hati dan memberikan motivasi kepada pedagang selain menjadi bos sendiri dan orang lain.

Mereka yang sudah memiliki tekad untuk berdagang tidak perlu membuang waktu membuat perencanaan yang rapi, memikirkan resiko, dan mempertimbangkan untung rugi. Yang diperlukan adalah tindakan nyata setelah memikirkan strategi dagang yang terbaik.

Perjalanan seribu batu dimulai dengan langkah pertama.

Keberhasilan orang Cina bukan disebabkan keahlian mereka dalam bidang perdagangan melainkan hasil kerja keras, kesungguhan, keberanian, keyakinan, perencanaan, keringat, air mata, dan pengorbanan yang turut melibatkan seluruh anggota keluarga.

Orang Cina rela menebalkan muka, menahan caci maki orang lain, dan hidup sederhana. Setiap sen yang diperolehnya digunakan dengan sangat hati-hati.

Jika ingin mencari rekan bisnis, carilah orang yang dapat dipercaya. Teman dekat belum tentu menjamin bahwa dia akan setia dan tidak akan mengkhianati temannya.

Agar keuntungan terus bertambah, sebagian keuntungan disumbangkan kepada yang membutuhkan, sebagian digunakan untuk investasi kembali.

Wawasan bisnis orang Cina : Kesulitan, kepedihan, keletihan, tidak pernah melemahkan pedagang yang berwawasan. Dalam perdagangan, ada waktunya muncul dan tenggelam. Jika tenggelam, harus muncul kembali, jika jatuh harus cepat bangun lagi dengan kekuatan yang baru.



Keturunan Cina di Indonesia yang jumlahnya 4% dari populasi penduduk Indonesia, menguasai 17 dari 25 konglomerat Indonesia dan total kekayaan mereka hampir 75% dari seluruh kekayaan perusahaan di Indonesia. Fenomena ini terjadi di seluruh kawasan Asia Tenggara.

Sebagai gambaran, populasi orang Cina di Thailand sebesar 10% dan menguasai ekonomi/kekayaan 90%, Filiphina populasi 1% menguasai kekayaan hampir duapertiga. Malaysia relatip kebih baik komposisinya, populasi sepertiga, menguasai ekonomi juga sepertiga. Ini, berkat program pemerintah Malaysia dalam bidang pribumisasi penguasaan ekonomi.

Bila dilihat lebih jauh, bisnis orang Cina perantauan (Hoa Kiau) yang bermukim di seluruh Dunia, tak terkecuali Africa diperkirakan memiliki kekayaan likuid- diluar sekuritas mencapai US$ 2 triliun, hampir sama dengan dana seluruh perbankan Jepang sebesar US$ 3 triliun. Kegiatan ekonomi Hoa Kiau tahun 1990 diperkirakan sebesar US$ 450 miliar seperempat GNP China sendiri.

Penguasaan ekonomi Cina perantauan (Hoa Kiau) ini menarik untuk disimak penyebab-penyebabnya antara lain karena :

Satu, orang Cina, mereka suka hidup berkelompok. Hampir di setiap negara dijumpai kantong-kantong pemukiman dan tempat bisnis Cina yang biasa disebut China Town. Kalau di Indonesia kita tak asing lagi mendengar nama “Kampung Cina” yang ada hampir di setiap daerah. Kalau di Jakarta kita mengenal “Pluit” dan “Kelapa Gading“, komplek pemukiman yang sebagian besar dihuni oleh orang China.

Kebiasaan hidup berkelompok ini, tidak kita temukan pada “Etnis Minang” yang sementara ini dianggap salah satu Etnis yang bisa bersaing dengan Cina disektor perekonomian. Kita jarang mendengar nama Kampung Padang/Minang, paling-paling jalan Minangkabau, Jalan Padang Panjang, Jalan Bukit Tinggi di daerah Manggarai, Jakarta, tapi di daerah itu tidak bermukim kelompok orang Minang (Sumber : Jernih Melihat, Cermat Mencatat oleh Mathias Pandoe).

Kebiasaan hidup berkelompok ini membuat komunikasi menjadi mudah dilakukan/ effektif, entah itu saat sembahyang bersama, berolah raga dan lain sebagainya. Keliatannya mereka terinspirasi dari sapu lidi, dimana sebatang lidi tak berdaya, tapi bila dijadikan satu/diikat bisa jadi senjata, minimal untuk menyapu.

Dua : Kekuatan bisnis Cina terletak pada jaringan yang disebut Guangxi, dibentuk secara alami antara sesama pedagang di Hongkong dan di Singapore, yang di Singapore dan di Jakarta. Kekuatan jalin menjalin ini terjadi juga antara sesama pedagang di satu kota dan dengan pedagang di kota lainnya.

Tujuan jaringan ini untuk menyajikan informasi secara informal, mendapatkan rasa aman, bukan satuan perusahaan yang terpusat, melainkan suatu integrasi dari berbagai kepentingan yang membentuk sistem yang sinergis. Laba operasional menjadi kurang berperan, yang terpenting adalah perputaran dana (cash flow).

Hubungan seperti inilah yang berlangsung diantara pengusaha Cina dimanapun mereka berada, titik kulminasi ini yang membuat mereka kembali ke Cina membangun negerinya.

Di Asia, jauh sebelum pemerintah Cina membuka pintu terhadap modal asing, salah satu tokoh pemilik Bangkok Bank yaitu Chin Sophanpanich membantu konglomerat Robin Loh (Singapore-Malaysia), Robert Kuok (Malaysia) dan Liem Sioe Liong (Indonesia).

Guangxi adalah ikatan atas dasar hubungan keluarga, klan ataupun tempat kelahiran. Guangxi ini juga terjadi karena senasib di perantauan. Dimana saja, orang Cina berbisnis selalu mulai dari lingkaran paling dalam, apakah itu merekrut karyawan, mencari pemasok, mencari mitra berdasarkan hubungan keluarga, kerabat atau sahabat. Jika tidak di dapat, baru dicari dari pihak luar.

Guangxi, sangat berbeda dengan Jaringan dan Gaya Bisnis India, dimana orang India enggan bekerja sama dengan sesama India. Mereka bersitegang untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Dalam bisnis, orang India tidak memilih-milih etnik. Mereka OK saja berbisnis dengan etnik Cina, yang penting dapat keuntungan maksimal.

Guangxi yang merupakan inti dari saling kerjasama supaya menjadi semakin besar, bila kita hubungkan dengan kebiasaan bangsa kita Indonesia, justru yang terjadi sebaliknya. Sebagai contoh : Diawal kemerdekaan kita mengenal banyak partai dan disederhanakan oleh Mantan Presiden Soeharto menjadi tiga Partai. Setelah Reformasi tahun 1998, kembali lagi menjadi banyak partai. Dalam Pemilu tahun 2009 terdapat sebanyak 48 Partai. Saking banyaknya, relatif sulit menyatukan suara untuk mensejahterakan rakyat. Disamping itu, rakyat bingung memilih anggota parlemen karena calonnya begitu banyak.

Guangxi, menjadi dinamis karena nilai-nilai Konfusius yang berkembang dalam sejarah dinasti Cina yaitu nilai-nilai : hidup hemat, kerja keras dan dapat dipercaya.

Tiga, Orang Cina jago matematika.

Bisnis/berdagang, tujuan utamanya adalah mencari laba atau keuntungan. Keuntungan diperoleh dari hasil Penjualan dikurangi Harga Pokok/Modal (Harga jual – Harga Pokok/Modal = Laba/Keuntungan). Untuk mendapat keuntungan, pengetahuan yang paling dominan adalah hitung-hitungan atau matematika.

Ucapan nomor/angka dalam bahasa Cina sangat singkat, mudah diucapkan seperti 4 adalah ”si” dan 7 ”qi”. Di Jakarta, sudah menjadi bahasa sehari-hari seperti 150 ”pek go”, jauh lebih simpel dibandingkan ”seratus lima puluh”. Cina juga memiliki sistem perhitungan yang logis, sebelas adalah sepuluh-satu, dua puluh empat adalah dua sepuluh-empat.

Sistem yang logis dan angka yang mudah diucapkan, membuat anak Cina dapat belajar berhitung lebih cepat. Anak-anak Cina pada usia empat tahun dapat menghitung sampai empat puluh, sedangkan anak-anak Amerika hanya sampai lima belas.

Bila dibandingkan dengan anak-anak Indonesia, rata-rata, siswa dan siswi di Kota Shanghai, Cina, menunjukkan kemampuan paling tinggi dalam bidang matematika dan iptek (skor 600 dan 575). Adapun untuk kedua bidang tersebut, skor Indonesia adalah 371 dan 401.

Konon orang-orang Tionghoa asal suku Hokian memiliki falsafah yang disebut 3C untuk kesuksesan mereka.

3C tersebut adalah :

1.Cengli.
Kalau ingin sukses, cara kita bekerja mesti cengli alias adil. Dengan kata lain kita harus jujur, tidak curang dan bisa dipercaya. Ini membuat banyak orang suka bekerja sama dengan kita. Semakin dipercaya, maka pintu pun semakin terbuka lebar bagi kesuksesan kita.

2. Cincai.
Artinya orang yang mudah memberi, tidak terlalu banyak perhitungan dan bukan tipe orang yang sulit. Uniknya, orang-orang yang mudah memberi seperti ini juga mudah mendapat. Dari sudut pandang Firman Tuhan , maka itulah yang disebut hukum tabur tuai. Sebaliknya jika termasuk orang yang sulit, pelit, terlalu banyak perhitungan baik dengan Tuhan maupun sesama, maka berkat juga susah turun untuk orang-orang seperti ini.

3. Coan.
Artinya orang kerja adalah wajar kalau mengharapkan keuntungan. Namun, fokus utamanya bukan apa yang kita dapatkan, tapi apa yang berikan. Kita harus sering mengajukan pertanyaan dalam diri kita, apakah yang kita lakukan sudah sebanding dengan apa yang kita dapatkan? Apakah kwalitas dan kontribusi kita sebanding dengan hasil yang kita terima?

Ketiga uraian di atas adalah 3C yang harus dilakukan , maka orang Hokian punya pantangan juga dalam bekerja atau berbisnis yang disebut dengan 3C.

C yang pertama adalah Ciok (hutang). Hutang kalau bayar tidak apa, tapi jadi repot kalau menjadi C yang kedua yaitu Ciak ( dimakan saja). Lebih tidak tanggung jawab lagi kalau kemudian orang tersebut melakukan C yang ketiga yaitu Cao (lari).

Semoga rahasia sukses ala suku Hokian ini, meskipun bernada humor, tapi bisa menjadi inspirasi bagi Anda!
Kalau orangnya melarikan diri bawa uang banyak… namanya CIAK LAT


Rahasia sukses dan keberhasilan orang Tionghoa dalam memulai usaha

Pertama
usaha keras, berani mencoba dan tidak takut gagal, memulai dengan apa adanya. Agaknya poin inilah yang menjadi kelebihan utama dari para pengusaha Tionghoa. Dalam keluarga Tionghoa, kerja keras bukanlah hal yang aneh. Mereka sudah terbiasa lembur hingga pagi. Jika ada kesempatan, seperti hari menjelang Lebaran, mereka tahu bahwa permintaan akan meningkat, maka mereka akan bekerja keras untuk memenuhi permintaan tersebut karena mereka menyadari bahwa Lebaran hanya satu kali dalam satu tahu. Moto orang Tionghoa dalam kerja keras yang sering saya dengar adalah “Kita harus bisa memindahkan gunung” dan “Kita harus bisa seperti orang lain walaupun kita melakukannya 100 kali lebih keras dari mereka.”
Orang Tionghoa pada umumnya berani memulai suatu usaha dan tidak takut gagal. Mereka mempunyai sense of urgency yang tinggi. Mereka sering berpendapat, “Jika tidak memulai sekarang, kapan lagi?” Gagal bukanlah hal yang menakutkan karena umumnya mereka selalu memulai usaha dengan apa adanya dan dari bawah.

Kedua
mengumpulkan informasi dan belajar. Sebelum terjun ke suatu bidang usaha, umumnya orang Tionghoa akan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Mereka tidak segan pergi ke saudara, teman, dan bahkan pihak yang tidak mereka kenal. Setiap pembicaraan dengan siapa saja mereka untuk menanyakan usaha yang akan mereka tekuni. Kemanapun mereka pergi, mereka akan membuka mata dan telinga lebar-lebar. Dengan kata lain mereka sangat mahir melakukan survey terhadap usaha yang akan mereka geluti.
Selain itu, mereka juga tidak segan untuk belajar. Cara belajar yang umum dari mereka adalah bekerja untuk orang yang usahanya serupa. Setelah yakin telah menguasai cukup informasi dan keterampilan mereka akan berusaha sendiri.

Ketiga
melakukan perencanaan. Perencanaan yang paling umum dilakukan oleh orang Tionghoa adalah melihat dari segi untung-ruginya suatu usaha. Dalam bahasa akademis, mereka mempertimbangkan visibility usaha yang akan mereka jalankan. Berapa banyak ongkos yang akan dikeluarkan, bagaimana cara mendapatkan bahan baku/material, bagaimana mempersiapakan produk mereka, siapa yang akan beli, akan dijual dimana, kapan kembali modal, dan berapa keuntungannya merupakan faktor utama yang mereka pertimbangkan.
Perencanaan mereka juga sangat memperhatikan efektifitas (tujuan tercapai) dan efisiensi (tepat cara, tanpa banyak mengorbankan waktu dan tenaga) usaha yang mereka geluti.

Keempat
membina relasi. Walaupun orang Tionghoa sangat kompetitif, tetapi mereka selalu sadar bahwa membina relasi adalah salah satu kunci keberhasil usaha mereka. Untuk membina hubungan baik mereka tidak ragu untuk mengeluarkan pengorbanan tertentu, seperti pemberian hadiah, mengundang makan dan melakukan entertain terhadap relasi mereka.
Siapa saja yang bisa membantu melancarkan dan mengembangkan usaha adalah relasi mereka. Dengan pembinaan relasi yang baik, akan terbuka kerja sama yang saling menguntungkan.

Kelima
kemampuan administratif dan inventory control. Agaknya banyak orang lupa akan hal yang satu ini. Orang Tionghoa sangat sadar akan pentingnya kemampuan dalam beradministrasi dan melakukan mengontrolan inventory. Mereka sangat memperhatikan secara terperinci setiap kegiatan usaha mereka dan merekamnya dalam catatan. Karena itu mereka tahu betul bagaimana neraca keuagan mereka dan persediaan inventory mereka.
Sebagai contoh, jika kita hendak belanja sesuatu di toko orang Tionghoa sangatlah jarang bahwa mereka sampai kehabisan persediaan.

Keenam
kemampuan pemasaran. Kemampuan pemasaran orang Tionghoa umumnya ditunjang oleh kemampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan dan kemauan pelanggan dan kemampuan menentukan harga jual dari suatu produk secara tepat. Dari proses ini, maka terjadilah penyebaran iklan gratis dari mulut kemulut.
Untuk pengusaha yang cukup besar, mereka melakukan positioning secara professional dengan mensponsori kegiatan tertantu dan pemasangan pengiklanan melalui media cetak dan media digital.

Ketujuh
mendelegasikan. Orang Tionghoa sadar betul bahwa untuk mengembangkan suatu usaha agar menjadi besar, mereka harus bisa mendelegasikan pekerjaannya. Syarat utama pendeligasian adalah bahwa orang atau karyawan mereka harus bisa dipercaya. Karena itu, mereka cenderung mencari orang yang sudah dikenal lama dan terbukti bisa dipercaya. Bagi mereka keahlian berusaha bisa diajarkan, tetapi kebercayaan tergantung dari masing-masing kepribadian.
Karena sistem kepercayaan ini jugalah maka, mereka tidak segan-segan meminta anak mereka yang masih kecil untuk membantu usaha mereka. Di lain pihak, anak mereka yang sudah terbiasa terekspos dengan usaha orang tuanya, membuat sang anak tumbuh dengan naluri usaha yang mendarah daging.

Kedelapan
mendiversifikasi. Pengusaha Tionghoa tidak mudah merasa puas dan cukup atas usaha mereka. Mereka selalu berusaha untuk memperluas usahanya. Salah satu caranya adalah dengan melakukan deversifikasi produk.
Mereka cenderung mempunyai keinginan untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginan pelanggannya. Mereka ingin agar pelanggannya hanya datang ke mereka. Untuk itu, mewujudkan keinginan ini, cara yang paling tepat adalah berani melakukan deversifikasi produk.

Kesembilan
mengolah keuangan. Tidak ada istilah “uang mati” dalam kamus berdagang ala orang Tionghoa. Mereka selalu mempekerjakan uang tersebut supaya bisa berlipat ganda. Cara yang paling umum dilakukan adalah menanamkan modal kembali ke usaha mereka. Hal ini bisa dilakukan untuk memdirikan usaha baru atau untuk membesarkan usaha yang telah ada.
Mental untuk melipatgandakan uang memang sudah tertanam dari kecil di lingkungan keluarga mereka. Contohnya, jika mereka menerima pemasukan Rp.100, maka mereka akan menyimpan paling tidak Rp. 25 dan sisanya ditanamkan kembali keusaha mereka dan untuk kebutuhan hidup mereka.
Contoh prinsipnya adalah perencanaan yang baik dan kerja keras. Prinsip perencanaan yang baik adalah untuk mencapai keefektifan dan keefisiensian dalam proses kerja. Prinsip kerja keras adalah bagaiman memotivasi saya sendiri dan karyawan saya untuk tidak cepat putus ada.
Dalam kondisi seperti ini, orang tua sering memotivasi dengan berkata, “Ayo, kita bisa memindahkan gunung .” Pengalaman seperti ini diterapkan dalam usaha sekarang ini.
Inti kesuksesan dari bisnis keluarga orang Tionghoa, yaitu warisan nilai-nilai atau prinsip-prinsip usaha yang berhasil diturunkan oleh orang tua Tionghoa kepada anak-anaknya. Sebagai contoh, jika kita pergi ke toko-toko orang Tionghoa, sering kali kita dilayani oleh anak mereka yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tanpa merasa canggung, anak tersebut bisa melayani kita dengan mahirnya. Adalah hal yang wajar jika suatu saat ia tumbuh menjadi orang dewasa, maka ia sudah siap untuk berusaha.
Orang tua Tionghoa tidak pernah segan untuk melibatkan anaknya yang masih kecil dalam usaha mereka. Mereka sudah diberi tanggungjawab yang cukup besar untuk ukuran seorang murid SD. Mereka diajari setiap proses bisnis dari persiapan hingga sampai ke tangan pelanggan dan bagaimana menangani pelanggan setelah transaksi jual beli.
Anak-anak orang Tionghoa juga diajak kerja lembur, bahkan banyak dari mereka yang diajak bekerja sampai pagi tanpa tidur. Dalam proses kerja itu, mereka di dampingi oleh orang tua mereka. Pada kesempatan itu terjadi penurunan nilai-nilai cara berusaha dari orang tua mereka.
Melibatkan anak dari usia dini adalah cara yang paling ampuh dari orang tua mereka untuk membentuk anak mereka menjadi bisnismen tangguh di kemudian hari.





Add to Technorati Favorites
 


Hal Unik yang dipikirkan bayi

Category: By AgungPutradinata



Hal Unik yang dipikirkan bayi

 Ini mungkin sudah menjadi pertanyaan rutin setiap ibu. Setiap kali menatap dalam ke mata bayinya, sang ibu akan bertanya: "Apa sih yang kau pikirkan, nak? Susu? Bebek-bebekan? Atau apa?"

Ternyata, menurut penulis buku "The Philosophical Baby" Alison Gopnik, otak bayi bekerja lebih keras daripada yang kita bayangkan. "Hingga sekitar 20 tahun yang lalu, para ilmuwan mengira bahwa bayi itu egosentris dan tidak logis," ujar Gopnik. "Namun kami menemukan bahwa, dalam banyak hal, bayi dan balita tahu, belajar dan berpengalaman lebih banyak bahkan dibandingkan orang dewasa!"

Seperti dilansir MSN Lifestyle, berikut beberapa temuan menarik Gopnik:

1. Bayi sudah mengerti Anda sejak dini. 
Selama ini orang menganggap bahwa anak-anak tidak akan bisa memahami pikiran orang lain hingga berusia tujuh tahun. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa mereka sudah mulai memahami sejak tujuh bulan. "Bahkan bayi yang masih sangat kecil tahu bahwa orang memiliki keinginan dan tujuan," ujar Gopnik. "Ketika melihat Anda menggapai sebuah benda, bayi mengerti bahwa Anda ingin memegangnya."

2. Balita tahu bahwa teman khayalannya tidak nyata. 
Menurut Gopnik, hampir 70 persen anak-anak memiliki teman khayalan. Bersahabat dengan teman khayalan adalah cara mereka untuk memahami dunia. "Pada usia tiga atau empat, anak-anak mengerti bahwa teman khayalannya tidak nyata," kata Gopnik. "Tapi untuk mencoba memahami orang lain, mereka mulai membayangkan kemungkinan bagaimana jika orang itu tingginya sepuluh kaki atau tidak terlihat orang lain."

3. Anak-anak butuh jawaban bak tanaman perlu air. 
Ketika anak Anda terus-menerus bertanya: "Mengapa, mengapa, mengapa?" dia sebenarnya bukan sedang berusaha untuk mengganggu Anda. Menurut Gopnik, anak memang tak tahan untuk tidak bertanya. "Anak-anak terdorong untuk mencari tahu mengenai dunia sebanyak mungkin," katanya. "Untuk itulah mereka mendesak orang dewasa demi jawaban."


Untuk itu, kuncinya adalah bersabar, beri mereka jawaban dan persiapkan diri untuk menghadapi hari-hari di mana Anda akan ditekan anak demi sebuah jawaban.

Add to Technorati Favorites
 


Kisah Sedih di Hari Ulang Tahun..**

Category: By AgungPutradinata



ini juga kisah sedih, yg saya tahu dulu saya dapat e-mail dari temen saya dia bercerita seperti ini :

Sepotong ayam goreng untuk Ulang Tahun Anakanya

Karena hujan yang tidak kunjung berhenti, akhirnya saya memutuskan, hujan-hujanan karena hari sudah malam...dan ini perut sudah tidak bisa diajak kompromi, akhirnya saya memutuskan mampir di warung nasi tenda dipinggir jalan...lagi asik-asiknya menikmati makanan, lalu masuklah seorang bapak, dengan istri dan 2 anaknya...yang menarik adalah kendaraan mereka adalah gerobak dorong...dan bapak ini memesan 2 piring nasi dan 1 ayam goreng...utk istri dan anaknya. Pertamanya sih ngga ada yang menarik, tetapi ketika saya selesai makan, ada yang menarik hati saya...ternyata, yang menikmati makanan itu hanya istri dan anaknya saja. Sedangkan sang bapak hanya melihat istri dan anaknya menikmati makanan itu. Sesekali saya melihat anak ini tertawa senang sekali, dan sangat menikmati ayam goreng yang dipesan oleh bapaknya...dan saya perhatikan, wajah sang bapak, walau tampak kelelahan tetapi ada senyum bahagia di wajahnya.

"Lalu saya mendengar dia berkata...makan yang puas to...ini khan hari ulang tahunmu". Saya mau menangis mendengarnya...seorang bapak, dengan keterbatasannya, sebagai (mungkin) pemulung...memberi ayam goreng murahan dipinggir jalan, untuk hadiah anaknya ulangtahun...saya teringat lagu yang dinyanyikan jeffrey chandra, "ku tahu, Bapa peliharaku...Dia baik...Dia baik"...hampir hampir mau menangis rasanya diwarung itu...segera sebelum air mata berlinang, saya berdiri, dan membayar makanan saya, dan juga dengan pelan-pelan saya bilang sama penjaga warung...mas...tagihan bapa itu, saya yang bayar...dan tolong tambahin ayam goreng, tahu dan tempenya"...lalu lekas lekas saya pergi.

Kisah ini disharingkan untuk bahan permenungan...bahwa Bapa pelihara kita...jangan takut...Dia tahu yang terbaik..dan satu lagi...jangan pernah mengeluh...ingat, kita masih bisa makan di restaurant dengan menu mahal (walaupun hutang menumpuk), tetapi ada orang disekitar kita, makan makanan dipinggir jalan dengan menu seadanya merupakan makanan mewah bagi mereka. Ingat sahabat2ku, saat ini mungkin posisi maupun jabatan kita diatas, tapi kalau kita tidak bisa membantu orang2 yang dibawah kita...apapun itu bentuknya...kadangkala kita membantupun dengan dan mesti ada imbal baliknya...jadi, percumalah kita menyebut diri kita sebagai umat kristiani yang baik dan benar...coba direnungkan baik2...apa yang sudah kita lakukan terhadap orang2 disekitar kita ??

Add to Technorati Favorites
 


Obama: Being a father is sometimes my hardest job President reflects on his absent father, saying 'that's why I've tried so hard'

Category: , By AgungPutradinata



President Barack Obama says being a dad is sometimes his hardest job, but also the most rewarding.
Just ahead of Father's Day, the president devoted his Saturday radio and Internet address to fatherhood. He talked about growing up without a dad, his own failings as a father and the values he hopes to teach his daughters Malia, 12, and Sasha, 10.
He described the responsibilities that all fathers have to their children and said his administration is trying to help during tough economic times and long deployments for U.S. troops.
The president spoke of helping to coach Sasha's basketball team. "In the end, that's what being a parent is all about — those precious moments with our children that fill us with pride and excitement for their future; the chances we have to set an example or offer a piece of advice; the opportunities to just be there and show them that we love them."
President Barack Obama with daughters Malia, left, Sasha, first lady Michelle Obama, right, and her mother Marian Robinson, partially hidden, examine the tiled underbelly and landing gear of Space Shuttle Atlantis as they visit Kennedy Space Center in Cape Canaveral, Fla.
'Unconditional love' 
Obama, who was raised largely by his grandparents in Hawaii after his father left when Obama was very young, also talked about what he wishes he'd done differently.

"I felt his absence. And I wonder what my life would have been like had he been a greater presence," the president said.
"That's why I've tried so hard to be a good dad for my own children. I haven't always succeeded, of course — in the past, my job has kept me away from home more often than I liked, and the burden of raising two young girls would sometimes fall too heavily on Michelle."
The president said he's learned that what children need most is their parents' time and a structure that instills self-discipline and responsibility, noting that even in the White House, Malia and Sasha do their chores and walk the dog. "Above all, children need our unconditional love," the president said, "whether they succeed or make mistakes; when life is easy and when life is tough."
Back to business 
Republicans used their weekly address to call for progress on pacts to expand trade with South Korea, Panama and Colombia.

The Obama administration wants lawmakers to expand retraining assistance for American workers who lose their jobs because of foreign competition. Republicans say that issue should be addressed separately by the president.
"For the good of our economy — and our country — he needs to send these free (trade) agreements to the U.S. Senate for approval now, so that U.S. workers and businesses can begin to realize their benefits," said Sen. John Hoeven, R-N.D.
"Our country needs the kind of pro-jobs, pro-growth policies that will help us live up to our vision of a strong, peaceful, prosperous America," Hoeven said. "We have an opportunity right now to advance that vision and jumpstart the nation's economy. Robust international trade can help us do it."
Copyright 2011 The Associated Press. All rights reserved. This material may not be published, broadcast, rewritten or redistributed.
MSNBC.NEWS



Add to Technorati Favorites
 


A mild slogan

Category: By AgungPutradinata

Di tengah perjalanan menuju rumah, terlihat suatu slogan yang sangat membuat kepala saya jadi berpikir.

Yaitu :

" Lagi Naik, Di susahin

Lagi Susah, di naikin"


Sangat ironik memang, slogan masyarakat Indonesia yang otomatis sudah berakar di sikap karakter kita sebagai manusia yang sosialis.

Terus terang slogan itu sangat mengganggu di kepala saya, Slogan yang yang sangat arogan, tersirat bahwa setiap orang harus menderita atau merasakan susah.

Di ombang ambing seperti perahu, di hancurkan harga dirinya dan dinaikan lagi…memang ironis, kenyataan kehidupan di Dunia ini,

Saya lalu berpendapat, bahwa kita haruslah berprinsip tegas, tidak membiarkan orang lain mengombang-ambingkan perahu kita. Hanya ada satu Nahkoda di sebuah perahu.

Itu yang selalu saya pegang sampai sekarang. Aneh memang itu hanya sebuah iklan rokok, yang mungkin tanpa disadari telah meracuni kepala anda tentang bagaimana bersikap.


Have a nice weekend

 


page